AKSI NYATA PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN ( Drs. SUYATNO TRI KURNIAWAN,MPd SMPN 3 GADING)
3.1.a.10. Aksi Nyata Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran
oleh :
Drs. SUYATNO TRI KURNIAWAN,M.Pd
CGP 04 97 SMPN 3 GADING - KAB. PROBOLINGGO
Modul : 3.1.a.10. Aksi Nyata – Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran
Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
A. Latar Belakang Aksi Nyata
Pada tahapan akhir dari siklus pembelajaran MERDEKA pada Pendidikan Guru Penggerak khususnya pada Materi dalam modul 3.1.a.10 CGP diberikan kesempatan untuk menjalankan rancangan dalam bentuk aksi nyata terkait pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Selama menjalankan Aksi Nyata ini penulis mendokumentasikan proses yang terjadi dalam bentuk foto. Selain itu aksi nyata ini juga ditulis dalam bentuk sebuah artikel yang ditulis dengan gaya masing-masing CGP yang mengandung keempat komponen dalam kerangka 4P (4F) yaitu peristiwa (facts), perasaan(feelings), pembelajaran (findings) dan penerapan kedepan (future).
Peristiwa (Facts)
Kegiatan Pengambilan Keputusan dengan melibatkan CGP lain di SMPN 3 Gading
Kegiatan Pengambilan Keputusan dengan melibatkan guru teman sejawat di SMPN 3 Gading
Sejak masa pandemi Covid-19 dimana pembelajaran tatap muka dialihkan ke Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) mengharuskan sekolah untuk mengoptimalkan segenap potensi setiap warga dan komunitas sekolah dalam memfasilitasi pembelajaran kepada peserta didik di sekolah. Tak terkecuali di SMPN 3 Gading dimana sejak masa pandemi ini begitu banyak kendala yang dihadapi dalam menjalankan pembelajaran jarak jauh dimana dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai khususnya ketersediaan perangkat pembelajaran daring baik bagi pendidik maupun bagi seluruh peserta didik. Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan sarana dan prasarana seperti laptop atau HP yang dimiliki oleh peserta didik, kesulitan akses internet dan keterbatasan kuota internet yang bisa disediakan oleh orangtua. Pendidik juga mengalami hambatan dalam PTMT dan cenderung fokus kepada penuntasan kurikulum. Selain itu guru mengalami kesulitan komunikasi dengan orangtua sebagai pembimbing murid di rumah. Belum semua orangtua bersedia dan mampu mendampingi anak belajar di rumah karena ada tanggung jawab yang lain seperti urusan kerja, urusan rumah, dan sebagainya.
Orangtua mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran dan memotivasi anak saat mendampingi belajar di rumah. Akibatnya peserta didik mengalami kesulitan untuk konsentrasi dalam belajar dari rumah dan mengeluhkan banyaknya penugasan dari guru. Kegiatan belajar dari rumah (BDR) menuntut adanya kerjasama antara guru, orangtua dan peserta didik.
Belajar dari rumah pada hakikatnya tidak hanya untuk memenuhi tuntutan kompetensi (KI-KD) pada kurikulum, tetapi lebih ditekankan pada pengembangan karakter, akhlak mulia dan kemandirian peserta didik. Guru harus bisa lebih kreatif dan inovatif dalam menyajikan materi pelajaran dan memberi tugas kepada peserta didik, agar terwujud kegiatan pembelajaran yang lebih bermakna, menginspirasi, dan lebih menyenangkan agar peserta didik tidak mengalami kejenuhan belajar dari rumah.
Seperti halnya yang terjadi pada salah satu peserta didik kami di sekolah yakni Linda Fuji Lestari yang merupakan peserta didik pada kelas IXC yang menghadapi masalah dengan pembelajaran jarak jauh moda daring dimana kesulitan mengakses materi pembelajaran menjadi hambatan dalam proses pembelajarannya.
Apalagi kalau harus mengakses materi pembelajaran daring disebabkan karena ketidaktersedianya perangkat android. Selama ini hanya mengandalkan perangkat yang dimiliki oleh teman sepantinya sehingga dalam menuntaskan tugas-tugasnya pun menjadi terhambat. Sebenarnya kondisi ini bukan hanya dialami oleh Linda, akan tetapi pada umumnya peserta didik di kelasnya.
Berangkat dari kondisi yang terjadi, sebagai pemimpimpin pembelajaran, seorang pendidik harus bisa memaksimalkan potensinya, mengambil keputusan yang tepat dalam rangka memfasilitasi pembelajaran bagi murid agar seluruh murid yang ada bisa mengakses pembelajaran sebagaimana layaknya seperti pada pembelajaran tatap muka.
Kondisi yang ada saat ini yakni pandemi tidak seharusnya menjadi alasan bagi guru untuk mengurangi apalagi menghilangkan hak akses pembelajaran bagi peserta didik, akan tetapi menjadi sebuah tantangan bagi kita untuk memaksimalkan potensi dalam memfasilitasi peserta didik mengakses pembelajaran dengan berbagai cara yang bisa ditempuh misalnya dengan penggunaan modul pembelajaran ataupu melakukan kunjungan rumah dan membangun komunikasi baik dengan peserta didik maupun orang tua atau wali peserta didik.
Dalam rangka mendapatkan solusi terkait ilustrasi kasus diatas, maka penulis menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip resolusi, dan 9 Langkah Pengujian pengambilan keputusan yang mengandung keempat komponen dalam kerangka 4P (4F) yaitu peristiwa (facts), perasaan(feelings), pembelajaran (findings) dan penerapan kedepan (future).
B. Tujuan
Tujuan dari aksi nyata-pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ini yakni untuk membantu peserta didik dalam mendapatkan hak akses pembelajaran di sekolah selama masa pandemi Covid-19 dan selama pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) sehingga peserta didik tetap bisa mengikuti proses pembelajaran meskipun dalam kondisi yang terbatas.
C. Hasil aksi nyata yang dilakukan
Aksi nyata yang dilakukan dalam rangka pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yakni dengan melakukan pendampingan kepada peserta didik sebagaimana dalam ilustrasi kasus di atas dalam rangka memfasilitasi peserta didik untuk dapat mengakses dan mengikuti pembelajaran dengan berbagai pendekatan diantaranya melakukan kunjungan rumah, pemberian materi pelajaran melalui modul dan hal-hal lain yang bisa membantu peserta didik dalam mengikuti pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Dalam pendampingan tersebut menerapkan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip resolusi dalam rangka penyelesaian dilema dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan sebagaimana dijelaskan sebagai berikut:
4 paradigma dilema etika; Individu lawan masyarakat (individual vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) dan jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
3 prinsip resolusi penyelesaian dilema yakni; berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan yakni; Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini, Pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulasi/standar profesional, uji intuisi, uji publikasi, uji panutan/idola), Pengujian Paradigma Benar lawan Benar, Melakukan Prinsip Resolusi, Investigasi Opsi Trilema dan akhirnya membuat keputusan serta melihat kembali keputusan yang diambil dan merefleksikannya.
Perasaan (Feelings)
Dalam kondisi sebagaimana yang dikemukakan di atas, sebagai pendidik saya merasa memiliki tanggungjawab untuk mengambil keputusan yang tepat dan efektif dengan mengacu pada prinsip-prinsip pengujian dan pengambilan keputusan dalam rangka memfasilitasi peserta didik untuk bisa mengikuti pembelajaran sebagamana seharusnya dan agar peserta didik mampu mencapai standar kurikulum dalam setiap mata pelajaran, bukan hanya sekedar menerima materi dan mengerjakan atau mengumpulkan tugasnya di setiap pertemuan akan tetapi lebih kepada bagaimana seluruh peserta didik mampu terakomodasi kebutuhan belajarnya sesuai kondisi dan masalah-masalah yang yang dihadapinya.
Pembelajaran (Findings)
Dengan menerapkan konsep pengujian dan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran pada modul 3.1. yakni 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip resolusi penyelesaian dilema dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, maka hasil yang aksi nyata yang didapatkan bisa diuraikan sebagai berikut:
Masalah yang dihadapi sebagaimana ilustrasi kasus tersebut merupakan kasus dilema etika yakni paradigma rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) dimana idealnya seorang pendidik harus lebih sensitif dalam memfasilitasi pembelajaran bagi peserta didiknya apalagi dalam kondisi sebagaimana yang disebutkan yakni masa pandemi (Covid-19) yang mengharuskan pembelajaran tatap muka di kelas dialihkan ke pembelajaran Tatap Muka Terbatas sehingga proses belajar mengajar membutuhkan sarana dan prasarana yang membuat peserta didik kesulitan dalam mengakses pembelajaran. Selain itu paradigma lain yang bisa terjadi yakni jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) dimana bisa saja dalam kondisi seperti yang dialami oleh peserta didik diatas membuatnya terhambat dalam pembelajaran sehingga berimbas pada penyelesaian ataupun penuntasan kurikulum dikarenakan tidak bisa mengikuti pembelajaran, tidak mengumpulkan tugas-tugasnya sehingga tidak tercapai kriteria ketuntasan minimum pada setiap mata pelajaran.
Prinsip yang berlaku pada ilustrasi kasus di atas yakni Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) dimana pengambilan keputusan yang saya lakukan merupakan hal yang terbaik bagi peserta didik dalam rangka memfasilitasi peserta didik dalam memenuhi kebutuhan belajarnya.
Penerapan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan sebagaimana ilustrasi kasus di atas yakni;
Langkah-Langkah dalam pengambilan Keputusan
1. Nilai-Nilai yang saling bertentangan
Nilai peraturan lawan nilai kedisiplinan
2. Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut
Yang terlibat dalam situasi tersebut yakni peserta didik (Devi Wulandari) dan secara umum peserta didik pada kelas VIIIC, Guru mata pelajaran di sekolah
3. Fakta - fakta yang relevan dengan kasus ini
Adanya masa pandemi membuat pembelajaran tatap muka di kelas dialihkan ke pembelajaran tatap muka terbatas
Peserta didik (Devi Wulandari) tidak memiliki perangkat (sarana dan prasarana) untuk pembelajaran Tatap Muka Terbatas
Peserta didik kesulitan mengakses materi pelajaran sehingga terkadang terlambat menuntaskan pelajarannya
4. Pengujian benar atau salah
a. Uji legal :tidak ada aspek pelanggaran hukum
b. Uji regulasi : tidak ada aspek pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam hal ini
c. Uji intuisi : tidak ada yang salah dalam situasi tersebut, hanya saja tidak terjalin komunikasi yang baik antara guru dan peserta didik
d. Uji publikasi : Jika hal ini dipublikasikan maka bisa memberikan pembelajaran yang positif
e. Uji panutan / idola : Jika hal ini dipublikasikan maka bisa memberikan pembelajaran yang positif
Dalam konteks uji panutan/idola akan mendukung dan mengambil keputusan yang sama.
5. Pengujian paradigma benar lawan benar
Paradigma yang terjadi adalah rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
6. Prinsip resolusi
Prinsip resolusi yang terjadi yakni Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
7. Investigasi opsi trilemma
Penyelesaian yang kreatif sebagai bentuk opsi trilemma yakni dengan membangun komunikasi kepada guru-guru mata pelajaran dan peserta didik untuk membuat kesepakatan kelas terkait proses pembelajaran yang bermakna baik bagi guru dan peserta didik sehingga masing-masing individu merasa bertanggungjawab atas kesepakatan tersebut.
8. Buat keputusan
Keputusan yang akan saya ambil yakni dengan menggunakan opsi trilemma yakni membangun komunikasi dengan peserta didik, merumuskan kesepakatan bersama dalam pembelajaran, memilih pendekatan pembelajaran yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan belajar peserta didik.
9. Melihat kembali keputusan dan merefleksikannya
Keputusan yang diambil merupakan keputusan yang paling tepat karena dapat memfasilitasi peserta didik dalam mengakses pembelajaran dengan segala hambatan yang dihadapi peserta didik, begitupun dengan guru-guru mampu memfasilitasi pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik.
Penerapan ke depan (Future)
Dengan mengimplementasikan paradigma, prinsip dan langkah-langkah pengujian dan pengambilan keputusan sebagaimana yang sudah diuraikan di atas, saya merasa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru dalam rangka pengambilan keputusan yang tepat dan efektif dalam setiap permasalahan yang terjadi di sekolah. Kedepannya saya akan terus berlatih dan belajar dalam melakukan pengujian dan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dan juga bisa mengimbaskan kepada rekan-rekan sejawat di sekolah.
D. Dokumentasi Aksi Nyata
Kegiatan Pengambilan Keputusan dengan melibatkan siswa di SMPN 3 Gading
Demkian Aksi NyataModu 3.1 Semoga bermanfaat
Salam dan bahagia dana Salam Guru Penggerak
Guru Bergerak … Indonesia Maju
Mhn masukan semua ya....
ReplyDelete